Artikel Jurnal :: Kembali

Artikel Jurnal :: Kembali

Judul Proposed CO2 hydrate technology application for carbon capture and storage implementation in indonesia
Nomor Panggil 620 SCI 40:2 (2017)
Pengarang
Subjek
Penerbitan Lemigas, 2017
Kata Kunci Penyerapan CO2, hidrat CO2, gas rumah kaca, penyerapan dan penyimpanan karbon ·
 Info Lainnya
ISSN20893361
Deskripsi Fisiknone
Catatan Umumnone
VolumeVol. 40, No. 2, Agustus 2017: hal. 69-74
Akses Elektronik
Institusi Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 4, R. Koleksi Jurnal
  • Ketersediaan
  • File Digital: 0
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
620 SCI 40:2 (2017) 03-18-721273893 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20469884
Penyerapan dan penyimpanan karbon atau carbon caoture and storage (CCS) pelu termasuk industri lihir minyak dan gas bumi karena pemerintah indonesia telah mengadopsi perjanjian Paris tentang penurunan emisi gas rumah kaca (the paris agreement on greenhouse gas emissions reducton). Berbagai teknik penyerapan emisi CO2 hasil pembakara telah dikembangkan. Salah satu pendekatan baru untuk menyerap CO2 guna mengurangi emisi ke atmosfir adalah teknologi (kristalisasi) hidrat gas CO2. Dasar teknologi hidrat CO2 adalah seleksi parsial terhadap komponen-komponen target fasa hidrat dan fasa gas. Dengan teknik ini, ditargetkan CO2, dapat lebih mudah dijebak dan ditangkap ke dalam fase kristal, dibanding komponen lain. Studi terdahulu menemukan bahwa kesetimbangan gas/hidrat masing-masing pada tekanan 7,6 MPa dan 11,0 MPa serta temperatur 274 K dan 277 K, tidak tepat diterapkan pada industri hilir minyak dan gas bumi karena akan diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk mengkoperansi gas sampai dengan pembentukan hidrat. Promotor hidral yang tepat termasuk tetrahydrofuran (THF) dan sodium dodecyl sulfate (SDS) dapat digunakan supaya tekanan pembentukan hidrat dan konsumsi energi yang optimal dapat dicapai sesuai realitas industri. Dengan menambahkan THF dan SDS sekitar 62,3 Nm/m hidrat CO2 dapat terbentuk pada tekanan 30 bar dan temperatur antara 274-277 K dalam waktu reaksi sekitar 15 menit. Hasil berbagai eksperimen menunjukan bahwa dengan jaminan kontak cairan dan gas serta promotor hidrat yang optimal, teknologi pembentukan hidrat CO2 secara berkelanjutan akan layak diterapkan pada skala industri termasuk penurunan emisi CO2 insudtri hilir minyak dan gas bumi. Tetapi, dibandingkan dengan kredit karbon internasional, kelayakan biay penurunan CO2 didaratan sangat tergantung kepada jarak transportasi CO2 melalui pipa.
004
020
02220893361
040LibUI eng rda
041Eng
049[03-18-721273893]
053[03-18-721273893]
082
090620 SCI 40:2 (2017)
100Yusep Kartiwa Caryana, author
110
111
240
245|a Proposed CO2 hydrate technology application for carbon capture and storage implementation in indonesia |c
246Ususlan penerapan teknologi hidrat CO2 untuk implementasi penyerapan dan penyimpnan karbon di indonesia.
250
260
260|a Jakarta |b Lemigas |c 2017
270
300
310Tiga kali setahun
321
336text (rdacontent)
337unmediated (rdamedia)
338volume (rdacarrier)
340
362
490
500
502
504
515
520Penyerapan dan penyimpanan karbon atau carbon caoture and storage (CCS) pelu termasuk industri lihir minyak dan gas bumi karena pemerintah indonesia telah mengadopsi perjanjian Paris tentang penurunan emisi gas rumah kaca (the paris agreement on greenhouse gas emissions reducton). Berbagai teknik penyerapan emisi CO2 hasil pembakara telah dikembangkan. Salah satu pendekatan baru untuk menyerap CO2 guna mengurangi emisi ke atmosfir adalah teknologi (kristalisasi) hidrat gas CO2. Dasar teknologi hidrat CO2 adalah seleksi parsial terhadap komponen-komponen target fasa hidrat dan fasa gas. Dengan teknik ini, ditargetkan CO2, dapat lebih mudah dijebak dan ditangkap ke dalam fase kristal, dibanding komponen lain. Studi terdahulu menemukan bahwa kesetimbangan gas/hidrat masing-masing pada tekanan 7,6 MPa dan 11,0 MPa serta temperatur 274 K dan 277 K, tidak tepat diterapkan pada industri hilir minyak dan gas bumi karena akan diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk mengkoperansi gas sampai dengan pembentukan hidrat. Promotor hidral yang tepat termasuk tetrahydrofuran (THF) dan sodium dodecyl sulfate (SDS) dapat digunakan supaya tekanan pembentukan hidrat dan konsumsi energi yang optimal dapat dicapai sesuai realitas industri. Dengan menambahkan THF dan SDS sekitar 62,3 Nm/m hidrat CO2 dapat terbentuk pada tekanan 30 bar dan temperatur antara 274-277 K dalam waktu reaksi sekitar 15 menit. Hasil berbagai eksperimen menunjukan bahwa dengan jaminan kontak cairan dan gas serta promotor hidrat yang optimal, teknologi pembentukan hidrat CO2 secara berkelanjutan akan layak diterapkan pada skala industri termasuk penurunan emisi CO2 insudtri hilir minyak dan gas bumi. Tetapi, dibandingkan dengan kredit karbon internasional, kelayakan biay penurunan CO2 didaratan sangat tergantung kepada jarak transportasi CO2 melalui pipa.
533
534
536
546
590
650Penyerapan CO2
653Penyerapan CO2, hidrat CO2, gas rumah kaca, penyerapan dan penyimpanan karbon
700
710
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 4, R. Koleksi Jurnal
856
866
900
902
903[]