UI - Pidato :: Kembali

UI - Pidato :: Kembali

Judul Mencerdaskan masyarakat di bidang parasitologi, dengan memperhatikan masalah lingkungan
Nomor Panggil PGB 0125
Pengarang
Pengarang/kontributor lain
Subjek
Penerbitan Jakarta: UI-Press, 1992
Kata Kunci
 Info Lainnya
Physics30 pages ; 21 cm.
Type
Format
Languageind
  • Ketersediaan
  • File Digital: 1
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
PGB 0125 PGB 0125 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 76711

Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).


Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.


Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.


Hadirin yang saya hormati,


Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).


Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).


Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.


Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu.

004
020
022
040
041ind
049[PGB 0125]
053[PGB 0125]
082
090PGB 0125
100Sri Surastuti Margono, author
110
111
240
245|a Mencerdaskan masyarakat di bidang parasitologi, dengan memperhatikan masalah lingkungan |c Sri Surastuti Margono
246
250
260
260|a Jakarta |b UI-Press |c 1992
270
30030 pages ; 21 cm.
310
321
336
337
338
340
362
490
500Guru Besar Tetap Parasitologi
502
504pages 21-24
515
520

Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu. ;Kebijaksanaan umum untuk mencapai tujuan Pernbangunan Kesehatan antara lain adalah bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh masyarakat dengan peran-serta aktif masyarakat (Sistem Kesehatan Nasional, 1982).

Memang peran-serta masyarakat merupakan prasyarat utama untuk berhasilnya pembangunan di bidang kesehatan seperti diutarakan pada deklarasi Alma Ata (1978) oleh WHO (Ditjen PPM & PLP, Depkes RI, 1991). Untuk menjamin peran-serta masyarakat yang aktif maka masyarakat perlu diberi bekal pengetahuan sehingga dapat mengurus dirinya sendiri dan tidak semata-mata tergantung kepada pemerintah.

Tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan menjadikan masyarakat cerdas telah dituangkan sebagai tujuan nasional dalam Pembukaan UUD 1945.

Hadirin yang saya hormati,

Proses.belajar tidak hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan dasar, menengah dan tinggi hanya untuk sebagian dapat menunjang berbagai kebutuhan untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Pengembangan sumberdaya manusia mencakup lebih daripada pengetahuan dasar dan bahan teknis yang dipelajari di sekolah. Ada hal yang melebihi itu yang tujuannya adalah peningkatan "kualitas hidup" atau "pendidikan kemandirian", yang mencoba menjadikan pendidikan sebagai bagian daripada perkembangan yang sedang dialami suatu masyarakat (Ingle, 1974).

Secara mendasar, tujuan dari pendidikan atau penyuluhan adalah mempengaruhi lingkungan pikiran manusia agar dapat berkembang secara positif dan konstruktif ke arah perbaikan dan penyempurnaan lingkungan fisik Sebab biar bagaimanapun, disadari atau tidak disadari, pikiran manusia selalu mendahului setiap tindakannya. Maka alangkah baiknya, pikiran tersebut dibuat sadar. Bukankah nenek moyang kita pernah mengatakan: pikir itu pelita hati, salah pikir binasa sendiri (Joesoef, 1991, komunikasi lisan).

Dalam rangka ini maka berbagai macam hal yang perlu dipelajari masyarakat termasuk dalam pengertian pendidikan seperti mengolah dengan baik informasi mengenai gizi, sanitasi, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, penanganan apotek hidup dan lain-lain. Termasuk juga perbaikan perilaku dan pembentukan suatu masyarakat yang aktif yang anggotanya tidak hanya memperhatikan peningkatan kualitas hidup dirinya sendiri, melainkan juga kualitas hidup tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Ini merupakan suatu cara belajar yang tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan luar, akan tetapi dicari dan dikembangkan oleh kelompok orang yang ingin belajar itu.

Pendidikan seperti ini berguna untuk pemuda maupun orang dewasa, orang buta huruf maupun orang tidak buta huruf; hal seperti ini berkaitan erat dengan kebutuhan lokal dan tidak terikat waktu atau tempat. Tidak perlu di gedung sekolah, tidak perlu mengikuti kurikulum formal, tidak perlu waktu yang tertentu untuk menyelesaikannya, tidak perlu mendapat suatu gelar. Seperti ini adalah pendidikan seumur hidup dan merupakan pendidikan atau penyuluhan dalam arti luas, tidak mengingat waktu.

533
534
536
546Bahasa Indonesia
590
650Parasitology-research
653parasitology; society; environmental problem; knowledge
700
710Universitas Indonesia. Fakultas Kedokteran
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 3
856
866
900
902
903